Posts

Showing posts with the label Cerpen

Nah Kan

Malam telah tiba dan hantu mulai bergentayangan di rumah si Momo. Ternyata itu bukan hantu tapi itu adalah boneka barbie, dia merasa ada yang aneh dengan boneka itu, iyah itu berbentuk seperti manusia dan ternyata itu adalah sex toy. Si Momo tergugah hatinya untuk memanfaatkan boneka tersebut, lalu ternyata pintu telah terbuka, dia kepengin kentut, dan karena dia tidak bisa menahan kentutnya, akhirnya dia kentut. "Njir, gua lupa kalo gua lagi diare.", sembari menyesali perbuatannya yang tidak menahan kentut. Dia sadar kalau dia telah boker di dalam celana.  Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan pantatnya dan membereskan celananya yang terkena ceceran beraknya. Dan semenjak itu dia sadar bahwa ketika sedang diare dia tidak boleh kentut sembarangan.

Cinta dan Robot

“ Mungkinkah robot mencintai?”, Shadi bertanya pada Tristan. “ Mungkinkah manusia mencintai?” Tristan bertanya balik ke Shadi “ Akh kalau itu pasti jelas bisa, orang banyak yang muncul tulisan tentang cinta yang dibuat oleh manusia, kajian dan pembahasan, walau sebagaimanapun framework untuk mendekati cinta, hanya sang pecinta yang bisa mengerti cinta, begitulah kata Heidegger.” “ Apakah robot bisa menciptakan seni?” “ Hmm” “ Apakah kau setuju bahwa robot adalah seni?” “ Kalau itu sih aku setuju, kan robot diciptakan manusia.” , jawab Shadi “ Lalu menurutmu bagaimana framework yang kau berikan bisa mendekati cinta?” “ Kalau itu framework yang paling dekat untuk mendekati cinta adalah Tuhan, karena cinta datang begitu saja, entah dari mana, mungkin itu sesuatu yang lebih divine atau ilahiat, sebuah methode untuk bertemu dengan Tuhannya.” “ Lalu methode apa yang paling mendekati untuk bertemu Tuhan, yang dijelasakan dalam cinta?” “ Seni.” “ Jadi mungkin seluruh sen...

Bekerja

Hari ini Shadi merasa heran melihat Tristan yang terus belajar padahal libur telah tiba. Kemudian dia bertanya pada Tristan. “Loe kok belajar terus, ambis beud.” tanya Shadi pada Tristan. “Gue belajar, buat ngatasin trauma gue.” , jawab tristan “Hmm?” “Iyah, belajar bukan sekedar untuk mengejar nilai tapi juga bagaimana cara kita untuk mencintai hidup, seperti juga halnya bekerja” jawab Tristan.

Mencintai Kemiskinan

Shadi pergi ke pemukiman kumuh, sebenarnya dia mencari barang murah disana. Kemudian sesaat dia melihat mata kesedihan diantara orang-orang miskin disana, wajah keputusasaan. Iyah, dia membayangkan dirinya menjadi mereka dan dia tidak yakin untuk bisa hidup seperti mereka, kemudian dia terus berjalan. “Hmm” , sambil berfikir dia berjalan menuju toko tempat barang murah tadi “Tak ada barang yang aku cari.” Sebuah angkot datang dan kemudian dia menaikinya untuk kembali ke kosan dimana tempat dia berdomisili sekarang, di dalam angkot dia membayangkan menjadi seorang miskin yang tadi dia temui. Dia membayangkan beragam cara untuk mensejahterakan seluruh masyarakat di Indonesia. “Tapi tak ada solusi, bahkan di luar negeripun pemandangan seperti ini juga bisa didapat.” Walau dia tidak pernah keluar negeri, bahkan naik pesawatpun dia tidak pernah lakukan. “Hmm” , dia membayangkan sebagai pejabat dan mencari solusi. “Tak ada solusi” , begitulah ungkapnya dalam dirinya. Hingga dia pun...

Setelah Itu

Setelah kegagalan itu Shadi pergi ke gunung untuk menangkan diri, dan dia memang menjadi tenang, setelah itu dia beranjak dari persemedianya untuk mengerjakan lagi tugas-tugasnya. Dia menulis hingga cukup lama, dan dia melakukan itu juga untuk melupakan kegagalannya. "Akh akhirnya sampai juga. Ternyata sesimple ini" Semenjak saat itu dia menyadari bahwa dia terlalu banyak mendengarkan orang lain.