Posts

Mentirakati Kerja

Das Kapital mengkritik sikap penumpukan uang yang berlebihan pada satu titik. Sebeneranya bukan hanya penumpukan uang berlebihan tapi penumpukan uang itu sendiri. Tapi dengan uang yang dibagi rata untuk semua orang tidak akan selamanya uang itu akan memberikan kemasyalahatan pada setiap masyarakat. Bahkan mungkin bisa jadi menaikkan kriminalitas karena sikap tidak siap pada uang itu sendiri. Benarkah hal tersebut? Apakah uang sejatinya merupakan surat kuasa yang menunjukan bahwa diri kita berkuasa. Beberapa penjelasan akan dimulai. Goerge Simmel menjelaskan dalam Philosophie der Gelden bahwa uang adalah kebebasan. Ketika kita memberikan sejumlah uang kepada anak kita, kita akan melihat bahwa mereka diberi kebebasan untuk membeli barang, dengan barang yang mereka beli akan menentukan kesadaran yang akan dibentuk oleh diri mereka. Uang erat sekali dengan kekuasaan ketika kita berbicara tentang kebebasan. Sebenarnya bagaimana Ekonomi itu terbentuk? Mengapa kita terlalu terbur...

Metafisika Postmodern : "Ada" itu Seperti Lamaran digantung.

Bagi kalian yang pernah nglamar orang terus digantung, antara dijawab atau tidak. Bahkan sampai keselnya sampai minta buat ditolak. Selamat, jika anda pernah di gantung anda telah mempelajari Nietzsche untuk bisa mengafirmasi ya dan tidak sekaligus. Manusia yang melampaui akan bisa menghadapi ya atau tidak atau bahkan ya dan tidak sekaligus. Tapi ada yang menarik ketika menhadapi tetaki penggantungan diri anda, seperti beragam pertanyaan dan kesimpulan muncul di kepala anda, jika anda beruntung anda mungkin bisa menjadi seorang filsuf besar melalui fenomena ini, kalau mungkin anda juga bisa mendapatkan Nobel. Teka teki yang tak berujung, bahkan kegamangan dimodelkan menurut Rumi bahwa Tuhan memang tidak bisa didefinisikan. Kalau dia bisa didefinisikan maka dia bukan Tuhan lagi. Tapi melalui model Tuhan menurut Kierkegaard, Tuhan memang tidak bisa didefinisikan tapi bisa didekati. Mungkin itulah salah satu fungsi agama yaitu untuk bisa mendekati Tuhan.  Melalui model Tuhan, "Ada...

Membaca Soekarno#4

Membahas Soekarno memang awalnya menarik, bagaimana kita bisa melihat beragam pemikir dunia yang di bendel melalui tulisannya. Sebuah methode untuk keliling dunia secara murah. Cukup dengan membayar sejumlah uang kita bisa melakukan ziarah perjuangan beragam masyarakat di dunia. Mulai dari Kemerdekaan Indonesia, Filiphina, India dan sebagainya. Beragam kekuarang barat dan kelebihannya tersaji dalam analisanya. Hanya saja cukup membosankan karena tulisan Sukarno mulai mudah untuk di tebak. Jika pada awal membaca anda akan terkesima bagaimana pemikiran Soekarno yang kaya. Tapi pada pertengahan seolah pemikirannya itu telus berulang. Tidak enak untuk dibaca linear untuk sekali selesai, alias membosankan. Sebenarnya tulisan ini bukan beride dari Soekarno, tapi dari Emha Ainun Najib. Terkadang saya mengalami kegelisahan yang memerlukan jawaban, tapi jawaban cepat yang ingin diselesaikan justru terkadang menimbulkan pertanyaan baru dan lebih susah untuk diselesaikan. Emha alias Cak Nun menga...

Membaca Soekarno #3

Mungkin sepertinya Soekarno salah membaca Hegel, atau mungkin saya yang salah membaca Hegel. Walaupun salah membaca setidaknya Soekarno juga memiliki tafsiran sendiri tentang Filsafat Roh milik Hegel. Sepengatahuan saya roh yang ingin dijelaskan oleh Hegel adalah esensi dari pengetahuan (Geistwissenschaft). Sementara Roh yang ingin dijelaskan oleh Soekarno adalah semangat pada jiwa. Dengan berlandaskan juga pandangan Soekarno pada pemikiran Roussou. Soekarno ingin menjelaskan bahwa tidak akan terjajah seseorang jika Geest (bahasa belanda bahasa hegelnya sebenarnya Geist) dari orang yang tidak terjajah. Soekarno ingin menjelaskan bahwa pembangunan mental merdeka itu penting. Saya tidak tahu apakah itu merupakan sebuah ide juga yang digagas oleh Menteri Pendidikan sekarang yaitu Nadiem Makarim, tapi kontext merdeka dari apa yang dibawakan oleh Soekarno lebih cenderung untuk menolak sistem permodalan karena imperialisme dan kapitalisme bersifat menindas. Sebaliknya kebijakan dari Nadiem M...

Membaca Soekarno #2

 Indonesia kian melarat karena nilai pertumbuhan pendudunya selalu positif. Ini menimbulkan beragam krisis di Indonesia. Soekarno telah menyadari ini sejak dahulu. Ada gempuran modal dari asing yang mencoba untuk menyelamatkan krisis ini. Sebagai post-moderinsme komunisme dinilai kurang mumpuni untuk mengatasi krisis ini. Infrastruktrur yang dibangun justru mengurangi lahan produktif seperti pangan. Lalu solusi apa yang perlu dilakukan, Jika memang krisis itu terjadi mengapa ada orang yang berlebih makanan contoh seperti penjual makanan yang tidak habis terjual. Masalah ini sebenarnya tidak bisa diselesaikan dengan mengakar dengan pandangan KM apalagi David Ricardo.  Pandangan yang paling cocok untuk mengatasi jumlah yang selalu positif sebenarnya muncul dari Jurgen Habermas. Dengan melihat bahwa setiap manusia memiliki potensi, yang terejawantahkan dalam Suprastruktur kesadaran. Pembangunan sumber daya manusia lebih menjanjikan dari pada pembangunan di sektor eknomi menengina...

Notes

 https://github.com/vincenthsu/systemd-ngrok

Tak Semua Agamis itu

Tak semua agamis itu menjalankan perintah agamanya. Setidaknya itu yang diutarakan Sukarno pada bagian awal tulisannya yang dibukukan berjudul "Dibawah Bendera Revolusi jilid 1". Sukarno menuliskan bahwa sebenarnya Marxisme mendukung Islam. Dia menyampaikan ayat bahwa riba itu haram, dan itu sepaham dengan pandangan dari Marxisme. Orang-orang yang menentang ajaran Marx sebenarnya telah menentang agama Islam itu sendiri, sampainya. Memang ada ajaran dalam Marx yang menentang agama, yaitu adalah agama sebagai candu, tapi sayangnya agama di barat waktu itu terkadang menarik pungutan dari anggotanya dan dimanfaatkan oleh petinggi di Gereja misalkan untuk kepentingan pribadi, alasan inilah yang mengakibatkan Marx juga menentang Agama.  Mayoritas Indonesia adalah Islam dan Marx sejalan dengan Islam. Islam itu sosialis. Kita bahkan berkurban dan dibagikan kedalam masyarakat. Andaikan Marx tinggal di Indonesia mungkin Marx tidak sekeras itu menentang Agama.  Sekalipun Islam mengajark...